Red Dragon Designs
Hover Effects

Saturday, 5 January 2013

Makalah Pedagik " Perkembangan Dewasa Madya"


Asfek-asfek yang Mempengaruhi Dewasa Madya
 “Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Pedagogik “


Dosen Pengampu:
Lilis Nurteti, S.Pd.I., M.Pd.




Disusun Oleh Kelompok 5
v  Dani Buldani
v  Hendriana
v  Irfan Miftahul Azis
v  Apep Nurdiana
v  Ade Taufik


Fakultas Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM
CIAMIS JAWA BARAT
2012



KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang dengan karunianya kita dapat hidup merasakan nikmat hidup dan menghirup udara yang begitu menyegarkan. Serta shalawat serta salam semoga tercurah terhadap junjungan kita Nabiullah Muhammad SAW. Semoga rahmat dan do’a beliau terhadap umatnya  membawa kita kepada syari’at Islam yang dirhidai beliau.
Akhirnya kami dengan puji syukur yang begitu mendalam kepada Allah SWT yang telah memudahkan kami dalam menyusun makalah ini yang berjudul “Asfek-asfek yang Mempengaruhi Perkembangan Masa Dewasa Madya” akhirnya, kami berhasil dengan baik. Sungguh tugas yang sangat terhormat bagi kami. Karena bahasan ini menjadi sesuatu yang membangkitkan semangat kami.
Terima kasih terhadap semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dan tak lupa kepada dosen Lilis Nurteti, S.Pd.I, M.Pd yang  telah memberi kesempatan kepada kami untuk mencari dan mengkaji serta membahas materi tersebut yang sangat penting di  kehidupan dalam kegiatan belajar-mengajar.
Terakhir tak lupa kepada pembaca yang sekiranya menemukan kejanggalan atau tidak sesuai, dan kekurangan dari makalah ini. Mohon untuk memberikan kritik serta sarannya yang akan menjadikan perbaikan di masa yang akan datang, menjadikan makalah yang akan kami buat lebih bermutu.
 Atas perhatiannya, Kami ucapkan terimakasih.                                                             


Penyusun ……,.November 2012





DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... iv
A.    Latar Belakang .................................................................................... iv
B.     Rumusan Masalah................................................................................. iv
C.     Tujuan Penelitian.................................................................................. Kv
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 1
A.    Pengertian Dewasa dan Pembagiannya................................................ 1
B.     Ciri-Ciri Kedewasaan .......................................................................... 2
C.     Asfek-asfek yang Mempengaruhi Dewasa Madya............................... 2
1)      Asfek Fisik dan Intelektual (Pembahasan Dani Buldani)........ 3-4
2)      Asfek Emosi (Pembahasan Apep Nurdiana Ridwan).............. 6
3)      Asfek Spiritual (Pembahasan Hendriana)................................. 7
4)      Asfek Sosial (Pembahasan Ade Taufiq  Arifin)....................... 8
5)      Asfek Usia Pra-Nikah(Pembahasan Irfan Miftahul Aziz)........ 13
BAB III PENUTUP......................................................................................... 1
A.    Kesimpulan .......................................................................................... 15
B.     Saran..................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 15



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Dewasa Madya
Saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kematangan jiwa mereka, menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup.  Dengan kata lain, orang dewasa nilai-nilai yangyang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya. Elizabeth B. Hurlock (1999)[1] membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:
a.         Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional,  priode isolasi social, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.
b.     Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
c.     Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam system syaraf, dan perubahan penampilan dewasa adalah individu yang telah siap untuk menerima kedudukan dalam masyarakat. Sedangkan kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju kearah kesempurnaan. Kedewasaan bukan lah suatu keadaan yang statis, tatapi merupakan suatu keadaan menjadi... (a state of becoming). 

B.      Ciri-Ciri Kedewasaan
 Menghargai orang lain
 Sabar
 Penuh daya tahan
 Sanggup mengambil keputusan
 Menyenangi pekerjaan
 Menerima tanggung jawab
 Percaya pada diri sendiri
 Memiliki rasa humor
 Memiliki kepribadian yang utuh
 Seimbang
Pada masa pertengahan dewasa ini merupakan periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 40 hingga 60 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Masa ini adalah masa serseorang untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir. Pada masa pertengahan dewasa seseorang mempunyai tugas perkembangan seperti memproleh tanggung jawab social, membangun dan mempertahankan standar ekonomi, membantu anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, membina hubungan dengan pasangan hidup dan sebagainya.

C.    Asfek-asfek yang Mempengaruhi Dewasa Madya
Sudah diterangkan di depan bahwa dalam makalah yang akan kami bahas adalah Dewasa Madya. Pengertiannya telah kami kemukakan menurut Elizabeth B. Hurlock (1999) bahwa “Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial. Maka kami akan membahas Dewasa dari segi
Pembahasan    : Dani Buldani

1.      Dewasa Madya dari Segi Fisik
Dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua puluhan tahun dan yang berakhir pada usia tuga puluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak ( http://www.psikologizone.com).
Dewasa dapat didefinisikan dari aspek biologi yaitu sudah akil baligh, Sedangkan menurut hukum sudah berusia 16 tahun ke atas atau sudah menikah, menurut Undang-undang perkawinan yaitu 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita dan karakter pribadi yaitu kematangan dan tanggung jawab. Berbagai aspek kedewasaan ini sering tidak konsisten dan kontradiktif. Seseorang dapat saja dewasa secara biologis, dan memiliki karakteristik perilaku dewasa, tapi tetap diperlakukan sebagai anak keciljika berada di bawah umur dewasa secara hukum. Sebaliknya, seseorang dapat secara legal dianggap dewasa, tapi tidak memiliki kematangan dan tanggung jawab yang mencerminkan karakter dewasa.
Dari segi asfek fisik bisa dilihat perubahannya dimulai dari masa pubertas secara fisik dapat dilihat dari perubahan tubuh, meliputi perubahan tanda kelamin primer dan sekunder. Perkembangan tubuh remaja laki-laki dan perempuan berbeda karena pengaruh hormon yang dihasilkan. Laki-laki menghasilkan hormon androgen, sedangkan perempuan menghasilkan hormon estrogen. Ciri-ciri pubertas secara fisik dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Ciri kelamin primer
1) Organ kelamin telah mampu memproduksi sel-sel kelamin. Laki-laki mulai menghasilkan sperma di dalam testis, sedangkan perempuan mulai menghasilkan sel telur di dalam indung telur (ovarium).
2) Organ kelamin mulai berfungsi. Pada remaja laki-laki ditandai dengan pertama kali mengalami “mimpi basah” yang mengeluarkan sperma atau air mani. Pada perempuan ditandai dengan mengalami menstruasi yang pertama kali.
b. Ciri kelamin sekunder
Pada remaja laki-laki, pubertas ditandai dengan ciri-ciri kelamin sekunder sebagai berikut.
1) Mulai tumbuh jakun.
2) Perubahan suara menjadi lebih besar dan berat.
3) Tumbuh kumis atau jenggot.
4) Tumbuh rambut di dada, kaki, ketiak, dan sekitar organ kelamin.
5) Mulai tampak otot-otot yang berkembang lebih besar dan menonjol.
6) Bahu melebar melebihi bagian pinggul.
7) Perubahan jaringan kulit menjadi lebih kasar dan poripori tampak membesar.
8) Kadang-kadang diikuti dengan munculnya jerawat di daerah muka.
Pada remaja perempuan, pubertas juga ditandai dengan ciri kelamin sekunder sebagai berikut.
1) Membesarnya payudara dan puting susu mulai timbul.
2) Pinggul melebar.
3) Tumbuh rambut di ketiak dan sekitar organ kelamin.
4) Suara lebih nyaring.
5) Kadang-kadang diikuti munculnya jerawat di daerah muka.
6) Perubahan proporsi tubuh, tampak dari bertambahnya tinggi badan, berat badan,
  
     panjang kaki, dan tangan, sehingga ukuran seluruh badan bertambah.

2.      Dewasa Madya dari Segi Intelektual
Isu mengenai penurunan intelektual selama tahun-tahun dewasa merupakan suatu hal yang provokatif. David Weschler (1972), yang mengembangkan skala intelegensi Weschler, menyimpulkan bahwa masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual karena adanya proses penuaan yang dialami setiap orang.
Namun ternyata isu ini lebih kompleks. Misalnya John Horn berfikir bahwa beberapa kemampuan menurun sementara kemampuan lainnya tidak. Horn menyatakan bahwa kecerdasan yang mengkristal (crystallized intelegence), yaitu sekumpulan informasi dan kemampuan-kemampuan verbal yang dimiliki individu meningkat seiring dengan usia, sedangkan kecerdasan mengalir (fluid intelegence) yaitu kemampuan seseorang untuk berfikir abstrak, menurun secara pasti sejak masa dewasa tengah.
Beberapa tokoh mempertanyakan tentang pernyataan yang diungkapkan oleh beberapa ahli di atas. Menurut Paul Baltes dan K warner Schaei pernyataan ini mempunyai cacat karena mereka mengumpulkan data secara lintas seksional. Dalam penelitian lintas seksional, individu-individu dari berbagai usia yang berbeda diuji pada saat yang sama.
Hal ini tentunya akan membuahkan hasil yang berbeda karena perbedaan masa tentunya juga memiliki perbedaan sosio-ekonomi dan kesempatan memperoleh pendidikan. Kemungkinan orang yang berumur 70 tahun tidak memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan pendidikan sehingga mempengaruhi hasil intelegnsinya.
Menurut seorang ahli perkembangan kognitif, Jan Sinnot (1984, 1998, dikutip dari Papalia, Olds, dan Feldman, 2001), ada empat ciri perkembangan kognitif masa post-formal berikut ini.
a. Shifting gears. Yang dimaksud dengan shifting gears adalah kemampuan mengaitkan penalaran abstrak (abstracts rea­soning) dengan hal-hal yang bersifat praktis. Artinya, individu bukan hanya mampu melahirkan pemikiran abstrak, melain-kan juga mampu menjelaskan dan menjabarkan hal-hal abstrak (konsep ide) menjadi sesuatu yang praktis yang dapat diterap-kan langsung. Dalam hal ini akan dikenal dengan ungkap-an seperti, “This might work on paper but not in real life”.
b. Multiple causality, multiple solutions. Seorang individu mampu memahami suatu masalah yang tidak disebabkan satu faktor, tetapi berbagai faktor (multiple factors). Karena itu, untuk dapat menyelesaikannya, diperlukan kemampuan berpikir untuk mencari berbagai alternatif solusi (divergent think­ing). Dengan demikian, seorang individu tidak berpikir kaku (rigid thinking] pada satu jenis penyelesaian saja. Oleh karena itu, masa ini dikenal dengan istilah, “Let’s try it your way, if that doesn’t work, we can try my way”.
c. Pragmatism. Orang yang berpikir postformal biasanya ber-sikap pragmatis, artinya ia mampu menyadari dan memilih beberapa solusi yang terbaik dalam memecahkan suatu masalah. Pemikiran praktis yang dilahirkan dalam memecah­kan suatu masalah pada tahap ini harus benar-benar mengenai sasaran (goal oriented). Namun, dalam hal ini, individu dapat menghargai pilihan solusi orang lain. Sebab, cara penyelesaian masalah bagi tiap orang berbeda-beda, tergantung cara orang itu berpikir. Ungkapan yang tepat untuk masa pragmatisme ini adalah, “If you want the most practical solu­tion, do this. If you want the quickest solution, do that”.
d. Awareness of paradox. Seorang yang memasuki masa postformal benar-benar menyadari bahwa sering kali ia menemukan hal-hal yang bersifat paradoks (kontradiktif) dalam mengambil suatu keputusan guna menyelesaikan suatu masalah. Yang dimaksud paradoks (kontradiktif) adalah penyelesaian suatu masalah akan dihadapkan suatu dilema yang saling bertentangan antara dua hal dari masalah tersebut Bila ia mengambil suatu keputusan, keputusan tersebut akan memberi dampak positif ataupun negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Hal yang positif tentunya akan memberi keuntungan diri-sendiri, tetapi mungkin akan merugikan orang lain. Atau sebaliknya, hal yang negatif akan merugi­kan diri sendiri, tetapi akan memberi keuntungan bagi orang lain. Oleh karena itu, dibutuhkan keberanian (ketegasan) untuk menghadapi suatu konflik, tanpa harus melanggar prinsip kebenaran ataupun keadilan. Dalam hal ini, dikenal ungkapan, “Doing this will give him what he wants, but it will only make kirn unhappy in the end”.
Terkait dengan intelektual itu sendiri, terdapat tipe-tipe tertentu. Adapun tipe-Tipe tersebut adalah:
Pertama, Inteligensi kristal adalah fungsi keterampilan mental yang dapat dipergunakan individu itu, dipengaruhi berbagai pengalaman yang diperoleh melalui proses belajar dalam dunia pendidikan. Misalnya, keterampilan pemahaman bahasa (komprehensif verbal/verbal comprehensive), penalaran berhitung angka (numerical skills), dan penalaran induktif (inductive reasoning). Jadi, keterampilan kognitif merupakan akumulasi dari pengalaman individu alcibat mengikuti ke-giatan pendidikan formal ataupun nonformal. Dengan demikian, pola-pola pemikiran intelektualnya cenderung bersifat teoretis-praktis (text book thinking).
Kedua, Fleksibilitas kognitif adalah kemampuan individu me­masuki dan menyesuaikan diri dari pemikiran yang satu ke pemikiran yang lain. Misalnya, kemampuan memahami melakukan tugas reproduksi, yaitu mampu melakukan hubung-an seksual dengan lawan jenisnya, asalkan memenuhi persyarat-an yang sah (perkawinan resmi). Untuk sementara waktu, dorong-an biologis tersebut, mungkin akan ditahan terlebih dahulu. Mereka akan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan pasangan dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga berikutnya. Mereka akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa tertentu, sebagai prasyarat pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai kriteria yang berbeda-beda.
Ketiga, fleksibilitas Visuamotor adalah kemampuan untuk menghadapi suatu masalah dari yang mudah ke hal yang lebih sulit,yang memerlukan aspek kemampuan visual/motorik(penglihatan,pengamatan,dan keterampilan tangan)
Keempat, Visualisasi, yaitu kemampuan individu untuk melakukan proses visual. Misalnya, bagaimana individu memahami gambar-gambar yang sederhana sampai yang lebih kompleks.

Pembahasan: Apep Nurdiana Ridwan

3.    Dewasa dari Segi Perkembangan Emosi
Papalia, Olds, dan Feldman (1998; 2001} menyatakan bahwa golongan dewasa muda berkisar antara 21-40 tahun. Masa ini dianggap sebagai rentang yang cukup panjang, yaitu dua puluh tahun. Terlepas dari panjang atau pendek rentang waktu tersebut, golongan dewasa muda yang berusia di atas 25 tahun, umumnya telah menyelesaikan pendidikannya minimal setingkat SLTA (SMU-Sekolah Menengah Umum), akademi atau universitas. Selain itu, sebagian besar dari mereka yang telah me­nyelesaikan pendidikan, umumnya telah memasuki dunia pekerjaan guna meraih karier tertinggi.
Dari sini, mereka mempersiapkan dan membukukan diri bahwa mereka sudah mandiri secara ekonomis, artinya sudah tidak bergantung lagi pada orang tua. Sikap yang mandiri ini merupakan langkah positif bagi mereka karena sekaligus dijadikan sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga yang baru. Namun, lebih dari itu, mereka juga harus dapat membentuk, membina, dan mengembangkan kehidupan rumah tangga dengan sebaik-baiknya agar dapat mencapai kebahagiaan hidup. Mereka harus dapat menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan pasangan hidup masing-masing. Mereka juga harus dapat melahirkan, membesarkan, mendidik, dan membina anak-anak dalam keluarga. Selain itu, tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tua ataupun saudara-saudara.
Dalam kaitannya dengan kecerdasan emosional, Sesungguhnya otak sangat juga mempengaruhi dalam emosi orang dewasa, yang mana ada komponen-komponen otak yang berperan dalam pembentukan emosi seseorang, yaitu antara lain:
1. Kortex
a. Memberi makna apa yg  kita serap
b. Mengatur fungsi penglihatan,memori jangka panjang
c.  Bagian ini membuat kita memiliki perasaan akan perasaan kita           sendiri,memahami,menganali  sis mengapa punya perasaan    tertentu.
2. Hippocampus
a. Tempat proses pembelajaran, disimpannya emosi
b. Pemicu bagi reaksi emosi Amigdala
3. Amigdala
a. Pusat pengendali emosi
b. Pemicu reaksi

Pembahasan: Hendriana

4.    Dewasa Madya dari Segi Spiritual
Di usia dewasa seseorang sudah menemukan agama yang tepat baginya, itu karena pada usia remaja kebanyakan dari mereka mencari dan selalu bertanya-tanya tentang agma yang dianutnya. Dengan bertanya-tanya dan mencari kebenaran itu pada masa dewasa mereka sudah mengetahui tentang apa yang harus mereka putuskan dalam beragama. Mereka sudah dapat menjawab keragu-raguan yang ada di benak mereka ketika mereka masih remaja tentang agama atau kepercayaannya. Di usia dewasa mereka sudah memiliki pegangan hidup yang di dasarkan pada agama yang dapat memberikan kepuasan baginya.
Apabila di masa ini mereka telah berkeluarga mereka akan lebih memperhatikan agama mereka karena mereka merasa telah memiliki tanggung jawab yang lebih. Mereka telah menjadi istri atau bahkan telah menjadi ibu bagi anak-anak mereka, mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan didikan moral kapada anak-anaknya sesuai dengan agama yang dianut. Oleh karena itu, pada masa dewasa biasanya orang berusaha untuk membiasakan beribadah dan melaksanakan praktek-praktek agama yang dianutnya.
Terdapat beberapa faktor yang Mempengaruhi Minat Keagamaan pada Masa Dewasa, yaitu:
- Pasangan dari iman yang berbeda
Pasangan yang berbeda keyakinan cenderung kurang aktif dalam urusan agama daripada pasangan yang seiman atau satu keyakinan.
- Kecemasan akan kematian
Orang-orang dewasa yang cemas akan kematian atau mereka yang sangat memikirkan kematian cenderung lebih memperhatikan agama daripada orang yang tidak memikirkannya, oleh karena itu dalam agama Islam dianjurkan untuk selalu mengingat kematian.
- Lokasi tempat tinggal
Orang yang tinggal di lingkungan yang agamanya kuat akan lebih memperhatikan agama dan rajin beribadah, agamanya cenderung lebih kuat [apabila agama yang dianut sama].
- Latar belakang keluarga
Orang yang dilahirkan dari keluarga yang baik-baik dan kuat agamanya akan lebih tertarik pada agama daripada yang tidak.
Pembahasan: Ade Taufik Arifin

6. Dewasa Madya dari Segi Sosial
A.    Masalah di lingkungan kerja.
Pekerjaan adalah pusat perhatian dari hidup khususnya untuk dewasa madya, yang umumnya sebagian besar dari mereka berada dalam puncak karir. Kerja tidak hanya memungkinkan seseorang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari tetapi juga dapat menyediakan arti dan harga diri, menyediakan lingkungan kerja dan teman, dan sumber dari pemenuhan diri (aktualisasi diri). Pekerjaan yang menantang dapat membantu seseorang untuk tumbuh secara intelektual, psikologis dan sosial.
   Dalam masyarakat kita, memiliki nilai yang tinggi terhadap etika pekerjaan, dimana kita akan mempertimbangkan pekerjaan untuk menjadi terhormat, produktif dan berguna. Status sosial dari pekerjaan berpengaruh besar terhadap konsep diri, penghargaan orang lain, dan penghargaan diri sendiri, serta berpengaruh juga terhadap rasa bosan dan well being seseorang.
   Maka hal yang ditakuti oleh mereka adalah menjadi pengangguran. Etika kerja yang masih menonjol pada masyarakat kita, ketika seseorang kehilangan pekerjaannya, mereka menghancurkan diri mereka sendiri dan juga kehilangan pengertian tentang harga diri. Banyak dampak yang ditimbulkan dari menjadi pengangguran ini, baik dari segi psikologis maupun sosial. Pada dasarnya pengangguran dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengangguran jangka pendek, terutama apabila seseorang mendapat tunjangan maka hanya akan memberikan efek kecil, sementara pengangguran jangka panjang, mungkin mendapat efek yang sebaliknya.
Pekerjaan merupakan sentral dari kehidupan banyak orang, apabila terjadi pengangguran maka ikatan kerja terputus, banyak penganggur yang jarang menemui teman-temannya, terputusnya ikatan dengan komunitas dalam kehidupan, hal tersebut terus meningkat menjadi isolasi. Menjadi tergantung sering kali dipandang oleh mereka yang tidak bekerja sebagai tanda bahwa dirinya adalah orang yang tidak berkompeten dan tidak berarti, harga diri rendah, cenderung mengalami depresi dan mereka terasingkan oleh masyarakat. Banyak yang menderita rasa malu yang mendalam kemudian menghindari masyarakat.
   Angka bunuh diri juga bertambah, ini menunjukkan meningkatnya depresi. Selain itu, yang juga meningkat selama waktu meningkatnya pengangguran adalah tingkat perceraian, insiden kekerasan anak dan angka radang dinding lambung (stress-dihubungkan dengan penyakit). 
Ada beberapa macam kelompok yang mempunyai resiko tinggi untuk menjadi pengangguran, yaitu: Kelompok yang memiliki pendidikan yang rendah dan tidak memiliki keahlian kerja untuk bersaing. Wanita, akibat dari diskriminasi dalam pekerjaan. Kelompok pekerja dengan usia tua yaitu 40 tahun keatas. Kelompok remaja dan orang muda. Adanya perubahan struktur yang mengakibatkan pengangguran struktural. Sedangkan, faktor-faktor yang dapat menurunkan resiko pengangguran yaitu pertama, tingkat bunga yang rendah mendorong konsumer untuk memperoleh lebih banyak barang melalui pinjaman kredit. Kedua, perang. Ketiga, perkembangan dari produk-produk baru yang membuka peluang untuk pekerjaan baru. Dan yang keempat, adalah perekonomian.
B.     Masalah dalam sistem keluarga.
1.      Pernikahan yang kosong, hampa ataupun jenuh 
Dalam pernikahan yang kosong, hampa, ataupun jenuh didalamnya tidak ada hubungan dan ikatan yang kuat antara sesama anggota keluarga. John F. Cuber dan Peggy B Harrof (1971) mengidentifikasikan tiga tipe dalam perkawinan yang hampa atau kosong, yaitu:
Ø  Devitalized relationship
Antara suami dan istri kehilangan banyak hal yang menyenangkan dalam sebuah pernikahan. Rasa bosan dan apati merupakan karakternya. Pertengkaran argumen jarang terjadi. 
Ø  Conflict-habituated relationship
Antara suami dan istri sering kali mengalami pertengkaran. Mereka juga dapat bertengkar di tempat umum atau tempat lainnya. Karakter hubungan ini erat dengan konflik, tensi, dan kepahitan
Ø  Passive-congenial relationship
Antara kedua pasangan merasakan ketidaksenangan dan memiliki sedikit konflik.
2.      Perceraian
Perceraian biasanya membawa berbagai kesulitan kepada siapa saja yang terlibat. Pertama, orang yang bercerai menghadapi hal-hal yang menyangkut emosional seperti suatu perasaan menerima kegagalan, perasaan untuk menerima dan memberi cinta, perasaan kesepian, perasaan yang meliputi stigma atau cap yang menempel pada perceraian, menyangkut reaksi yang diberikan oleh teman-teman atau kerabat, menyangkut perasaan apakah telah melakukan suatu hal yang benar pada saat melakukan perpisahan atau perceraian, menyangkut apakah dapat melakukan sesuatu dengan baik secara sendiri. Apabila memiliki anak, maka perhatian lebih kepada bagaimana perceraian akan mempengaruhi mereka.
Penelitian (Papalia dan Olds, 1942, p.459) memperlihatkan bahwa melewati sebuah masa perceraian merupakan suatu masa yang sangat sulit. Orang tidak dapat menampilkan kinerja yang baik pada pekerjaanya dan sepertinya banyak yang dipecat dalam periode ini. Orang yang bercerai memiliki angka harapan hidup yang rendah dan angka bunuh diri pada laki-laki yang bercerai sangat tinggi.
Perceraian secara otomatis tidak selalu dianggap menjadi sebuah masalah sosial. Dalam beberapa pernikahan dimana ketegangan, kepahitan dan ketidakpuasan, perceraian terkadang merupakan suatu solusi. Hal ini mungkin merupakan langkah konkret dari orang-orang yang melakukan perceraian untuk mengakhiri ketidakbahagiaan dan memulai ke arah kehidupan yang lebih produktif dan memuaskan.
Ada berbagai macam alasan kenapa seseorang memutuskan untuk bercerai, yaitu:
Ø  Little (1982) menjelaskan bahwa alasan utama orang bercerai yaitu karena adanya ketidakpuasan satu sama lain. Dengan kata lain, pasangannya memiliki sifat-sifat yang tidak dikehendaki seperti yang diharapkan oleh suami/istri mereka.
Ø  Banyak hal yang menjadi sumber dari perceraian. Misalnya alcoholism, percekcokan ekonomi yang disebabkan oleh pengangguran atau masalah ekonomi lainnya, ketidakcocokan dalam hal kesukaan, ketidaksetiaan, kecemburuan, kekerasan lisan maupun fisik dari pasangan dan campur tangan dalam pernikahan oleh sanak famili atau teman-teman.
Ø  Ketidaksediaan seorang laki-laki untuk menerima perubahan status seorang wanita. Banyak laki-laki yang masih lebih memilih ke pernikahan tradisional, dimana suami adalah dominan dan istri memiliki kedudukan yang lebih rendah (supportive) seperti membesarkan anak, mengurus rumah tangga dan memberikan dorongan emosional kepada suami mereka. Banyak wanita yang tidak dapat bertahan pada status tersebut dan meminta kesetaraan dalam pernikahan.
Ø  Berkembangnya individualime. Individualisme meliputi kepercayaan bahwa orang harus mencari untuk dapat mengaktualisasikan diri mereka, menjadi bahagia, mengembangkan kesenangannya.  
Ø  Semakin diterimanya perceraian di masyarakat. orang sudah lagi tidak peduli terhadap stigma buruk bagi pasangan yang bercerai, karena sekarang sudah banyak orang yang tidak merasa bahagia dengan pernikahannya. 
Ø  Adanya nilai-nilai yang diabaikan dalam keluarga modern. Pendidikan, penyedia makanan, hiburan dan kebutuhan lainnya yang seharusnya keluargalah sumbernya, kini ternyata sebagian besar disediakan oleh pihak lain.
Konsekuensi yang timbul dari perceraian tersebut antara lain: orang menjadi marah dan gelisah, merasa bersalah pada diri sendiri, dan dampak utama bagi wanita adalah masalah standar hidup yang menurun.  
Selain konsekuensi tersebut, perceraian juga memiliki dampak bagi anak, seperti yang dikemukakan oleh Hetherington, Cox dan Cox (1973) yang meneliti 48 keluarga yang bercerai selama 2 tahun setelah perceraian untuk meneliti efek perceraian terhadap anak. Mereka menemukan bahwa segera sesudah perceraian, ada gangguan yang sungguh-sungguh dan disorganisasi didalam kehidupan keluarga. Studi tersebut meyimpulkan bahwa 2 tahun pertama setelah perceraian merupakan masa yang penuh tekanan bagi semua anggota keluarga. Papalia dan Olds (1989, p.321) menyebutkan perasaan yang mungkin dialami oleh anak dari perceraian yaitu penderitaan, kebingungan, kemarahan, kebencian, kekecewaan yang mendalam, merasa gagal dan penyangkalan diri.
   Sebuah studi longitudinal focus pada 60 keluarga di California yang sedang mengalami perceraian(Walerstein 1983; Walerstein dan Kelly,1980). Ditemukan bahwa anak–anak perlu bekerja menghadapi 6 isu utama untuk memelihara perasaan yang positif dalam penyesuaian diri, yaitu:
a.       Anak perlu menerima kenyataan bahwa pernikahan orang tua mereka sudah berakhir.
b.      Anak perlu menarik diri dari segala konflik yang mungkin dimilki orang tua mereka.
c.       Anak perlu mengatasi kehilangannya, yaitu kehilangan kontak dengan orang tua, situasi rumah, peraturan dan kebiasaan keluarga.
d.      Anak perlu dapat mengatasi perasaan marah pada diri sendiri.
e.       Anak perlu memahami bahwa situasi ini adalah permanen.
f.       Anak perlu tetap memelihara kontak dengan orang lain yang berhubungan dengan kehidupannya.
3.      Keluarga dengan orang tua tunggal.
Anak yang hidup dalam keluarga dengan orang tua tunggal mengahdapi lebih banyak masalah daripada anak yang dibesarkan dengan orang tua utuh. Meskipun demikian, orang tua utuh tidak selalu ideal dan orang tua tunggal tidak selalu patologis. Orang tua tunggal harus memenuhi seluruh tanggung jawab yang seharusnya dibagi dengan pasangan. Hal ini berarti orang tua tunggal harus berperan sebagai kedua orang tua sekaligus.
4.      Keluarga campuran
Keluarga campuran adalah keluarga yang didalamnya tidak hanya terdiri dari orang tua atau anak kandung saja melainkan juga terdiri dari orang tua tiri atau anak tiri yang meruapakan hasil perkawinan sebelumnya. Keluarga ini mempunyai situasi yang kompleks. Kecemburuan merupakan hal yang pasti akan tumbuh dalam pembagian perhatian dari orangtua kepada anak kandung maupun anak tiri. Untuk itu diperlukan adaptasi dan proses pembelajaran.
Masalah yang paling sering berpotensi menimbulkan tekanan adalah cara membesarkan anak. Anak tiri harus berusaha menyesuaikan dengan satu set peraturan baru yang diterapkan orang tua tiri. Tidak jarang si anak menjadi rindu kepada orangtuanya. Untuk itu, baik anak maupun orang tua harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan masing-masing. Menjadi orang tua tiri umumnya lebih sulit pada wanita, karena pada umumnya anak lebih dekat kepada Ibu kandungnya secara emosional. Terdapat tiga mitos tentang orang tua tunggal yaitu; (1) Ibu tiri jahat seperti dalam cerita Cinderella, (2) Step is less, anak tiri tidak akan menempati hati orangtuanya layaknya anak kandung. (3) instant love untuk semuanya padahal membutuhkan banyak waktu untuk saling mengenal.
5.      Ibu yang bekerja diluar (Ibu sebagai wanita karir)
Sekarang ini, banyak Ibu yang bekerja di luar rumah dan menjadi wanita karir. Dengan bekerja diluar rumah, maka Ibu atau seorang istri yang memegang peranan penting dalam keluarga serta anak-anak mereka tentunya mengalami permasalahan. Anak memerlukan perhatian dan kasih sayang yang ekstra dari seorang Ibu.

Pembahasan: Irfan Miftahul Aziz

5.  Usia Pra Nikah
Terlepas dari perkembangan masa dewasa yang telah dijelaskan di atas, di sini akan dijelaskan secara spesifik tentang kecenderungan-kecenderungan mada usia pra-nikah. Di antara ciri-cirinya adalah:
1.      Usia banyak masalah.
Dalam usia ini banyak sekali masalah-masalah baru yang sering terjadi, persoalan tersebut merupakan kelanjutan dari pengembangan persoalan yang dialami pada masa remaja. Persoalan yang berhubungan dengan pemilihan teman hidup, persoalan tentang pekerjaan, dan jabatan. Yang mana sering terjadi adanya lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat serta cirri-ciri pribadi individu tersebut.
2.      Usia reproduktif.
Sering ditemui orang dewasa pra nikah, yang memulai karir terlebih dahulu sebelum memasuki jenjang pernikahan. Bagi mereka yang mmiliki banyak adi mulai berperan seperti orang tua  dalam membimbing adik-adik mereka . bagi yang tidak memiliki adik, lebih memperbaiki segi ekonomi atau karir sehingga mereka mampu membiyai hidup mereka sebelum menikah.
3.      Usia memantapkan letak kedudukan.
Sebelum seseorang memasuki usia pernikahan mereka masih mencari-cari peranan serta kedudukan dalam hidupnya. Sehingga bagi usia pra nikah merupakan usia memantapkan petanannya atau belajar menyesuaikan diri menuju peranan baru yang akan dihapinya, yaitu dari masa remaja ke dewasa, dari masa kuliah kekehidupan rumah tangga.
4.      Usia tegang dalam hal emosi.
Usia pra nikah sering mengalami ketegangan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dijalaninya seperti jabatan, perkawinan atau keuangan. Banyak diantara mereka yang memasang harapan tinggi misalnya jabatan tinggi, pendamping hidup yang criteria sempurna, penghasilan yang memadai dsb yang mana apabila harapan-harapan tersebut tidak mampu dicapainya akan menyebabkan kekecewaan.
5.      Usia keterasingan social.
Berkaitan dengan keterasingan social Elizabet B. Hurlock menyatakan bahwa keterangan social  diintefikasikan dengan adanya  semangat bersaing dan hasrat  kuat untuk maju dalam karir, denga demikian keramah tamahan remaja  diganti dengan persaingan pada masa dewasa, mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga untuk pekerjaan mereka. Sehingga mereka hanya mampu menyisihkan waktu sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membina hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya mereka menjadi fgosentris dan ini tentunya menambah kesepian mereka.
6.      Usia membentuk komitmen.
Bagi seseorang uang menyelesaikan studi. Mulai memasuki dunia yang berbeda, dan peran yang berbeda pula. Berhubungan dengan hal tersebut, banyak diantara mereka yang membentuk komitmen-komitmen baru yang mereka persiapkan sebagai landasan hidupmenuju jenjang pernikahan.
7.      Usia perubahan nilai.
Bagi seseorang yang telah selesai menyelesaikan pendidikan formal, dengan sendirinya mereka akan mengalami perubahan peran dari remaja kedewasa, darei pelajar kemasyarakat umu. Dengan demikian cara berfikir dan pandangan mereka lambat laun akan berubah.
8.      Usia kreatif.
Bentuk kreatifitas yang akan terlihat tergantungpada minat dan kemampuan individual, kesempatan yayang lluas ini mereka gunakan untuk mengaktualisasi diri mereka tanpa tanoharus terikat dengan aturanadayang menyalurkan kreativitas ini melalui hobi, pekerjaan atau yang lain yang memungkinkan untuk mengespresikan kreativitasnya.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial

B.     Saran
Perkembangan Dewasa Madya hendaknya dipelajari karena menyangkut kehidupan kita sehari-hari. Agar kita bisa bertindak sebagaimana orang dewasa yang mempunyai kematangan.




DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Suryanto, Alex dan Agus Haryanta. 2007. Perkembangan dan pertumbuhan remaja. Tangerang: PT Gelora Aksara Pratama.
Hurlock, Elizabet. B. 1999. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga
Daniyo, Agoes. 2003. Psikologi Perkembangan Dewasa muda. Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia

Internet:


B.  Hurlock, Elizabeth. 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga






No comments:

Post a Comment